ARTIKELOPINI

Siasat Solidaritas Pendidikan Literasi Digital

Dibaca 5 Menit

Menjadi seorang pendidik sekolah dasar (SD) di pesisir selatan pulau Jawa yang rawan dengan ragam bencana, dibutuhkan kecerdasan untuk bersiasat. Salah satu perkiraan bencana yang akan sangat berdampak di wilayah tersebut adalah gempa bumi skala besar bernama megathrust, sehingga ancaman tsunami pun juga menyertai. 

Berbagi Ruang dengan Bencana

Terletak kurang dari dua kilometer dari bibir pantai, sebuah SD di Cilacap selalu siaga bencana terjadi. Sama halnya dengan sebuah sekolah di Trenggalek, Jawa Timur, gempa tektonik mengancam kapan saja. Di Kulonprogo, Yogyakarta, selain kedua bencana tersebut juga mengancam, isu relokasi sekolah menambah kecemasan para pendidik dan orangtua, ketika bangunan sekolah baru yang disediakan tidak begitu bisa dipastikan kualitas keamanannya dari ancaman bencana. Pada akhirnya, definisi atas situasi bencana menjadi semakin kompleks, karena bukan lagi fenomena alam, melainkan situasi politik–saat rangkaian protes pada Agustus 2025 lalu terjadi, beberapa sekolah di Jawa Tengah diliburkan. Pendidik pun bersiasat, tetap libur, memberi tugas, atau tetap berlangsung tanpa tatap muka?

Selama pandemi Covid-19, kegiatan belajar mengajar mengalami kelumpuhan; interaksi fisik sangat dibatasi karena menyebabkan penularan hingga kematian; akhir dari pandemi tidak pasti, sedangkan anak-anak memerlukan akses pendidikan. Pada saat itu, teknologi seakan-akan menjadi panasea, obat dari segala obat. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi model untuk mengupayakan agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan bantuan teknologi; minimal ada satu gawai yang terhubung dengan internet di setiap rumah tangga. Pada titik ini, pendidik juga menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa; yang dipaksa untuk berinovasi tanpa pembekalan yang memadai.

Raeni, seorang guru di SD Negeri Ciandum, Tasikmalaya, mengatakan bahwa di era digital ini, perkembangan teknologi itu sangat pesat. Karena itulah, dia khawatir terhadap anak-anak didiknya. 

“Kebetulan saya adalah guru kelas 5. Anak kelas 5 di kelas saya itu hampir semuanya sudah mempunyai gawai dan mempunyai media sosial masing-masing, seperti TikTok, Instagram, dan lain-lain,” kata Raeni. ”Kekhawatiran saya adalah anak-anak sering bermain media sosial daripada belajar… tanpa memperhatikan keamanan-keamanan dari penggunaan media sosial tersebut. Anak-anak tidak bisa membedakan mana berita hoaks, mana berita fakta. Jadi hanya dimakan mentah-mentah.”

Kebiasaan mengajar di kelas tatap muka tiba-tiba harus melihat satu layar penuh dengan wajah semua siswa bukan perkara mudah untuk diterima begitu saja. Beberapa hal yang membuat mereka gagap misalnya bagaimana membuat kuis interaktif, mempertahankan anak tetap fokus, memastikan tugas dikerjakan dengan jujur, hingga persoalan teknis ketika gawai harus dipakai bergantian, karena dalam satu rumah tangga ada lebih dari satu orang yang membutuhkannya dalam waktu yang bersamaan. Bisa dibayangkan kecerdikan sekaligus kebingungan para pendidik waktu itu.

Usai pandemi dinyatakan berakhir, kegiatan PJJ masih diadaptasi oleh sebagian pendidik, karena dianggap efisien. Sayangnya, selama ini, model PJJ dijalankan tanpa pembekalan literasi digital yang cukup, yang berdampak pada pengabaian keamanan digital. Satu kecemasan tentang keamanan fisik karena bencana terobati, keamanan digitalnya belum terproyeksi. 

Nur Wahyu Prabowo, guru Pendidikan Agama Islam dari SD Negeri Pacitan, mengungkapkan, “Jadi tantangannya yang paling sulit dihadapi guru, tenaga pendidikan di sekolah itu adalah mengawasi penggunaan media digital yang di luar sekolah… Itu salah satu tantangannya, khususnya saya sebagai tenaga pendidik, untuk mengontrol anak-anak ini harus bisa menggunakan media digital dengan baik.”

Situasi ini dibaca sebagai ancaman baru di daerah-daerah rawan bencana, terutama pesisir. Literasi digital muncul untuk memitigasi apabila kelak terjadi bencana selain pandemi, atau bahkan serupa. Combine Resource Institution (CRI) bersama Pujiono Centre dan didukung oleh Internet Society (ISOC) Foundation mengajak 39 sekolah yang tersebar di delapan wilayah pesisir selatan pulau Jawa untuk menjalankan serangkaian kegiatan berkelanjutan tentang literasi digital. Salah satu tujuannya agar kelak jika perlu melakukan PJJ kembali, daerah ini sudah siap dengan PJJ yang aman secara holistik. 

Kerja Bersama, Delapan Kabupaten di Pesisir Selatan Jawa

Setiap sekolah di delapan kabupaten memiliki keunikan, baik dari segi sosio kulturalnya maupun tantangan infrastruktur. Keragaman tingkat literasinya pun cukup berwarna, baik literasi secara umum maupun literasi digital. Kesadaran tentang keamanan informasi dan perangkat hingga pendampingan orangtua dan anak terkait gawai dan sumber informasi adalah temuan menarik yang setiap daerah, bahkan sekolah memiliki cerita yang berbeda-beda. 

Di Cilacap, tujuh sekolah tersebar di tiga titik lokasi. Enam di antaranya terbagi dalam dua kampus terpadu. Para siswa akan melewati satu gerbang yang sama, meski almamater mereka berbeda. Cilacap menjadi satu-satunya kabupaten dalam program ini yang masih memiliki kampus terpadu. Kondisi ini cukup baik dalam memantik kolaborasi antar sekolah, karena secara lokasi sangat berdekatan bahkan satu gerbang yang sama. 

Berbeda dengan Trenggalek, untuk menjangkau setiap sekolah perlu melewati medan yang cukup berliku. Sebuah sekolah bahkan tidak memiliki pintu gerbang yang ideal, atap yang tidak mampu menyangga air hujan, sehingga alat-alat elektronik di sekolah tersebut sering mengalami kerusakan. Seorang guru perempuan tinggal di dalam sekolah dan pulang seminggu sekali. Solusi dari kondisi ini tentu saja bukan pemberian smart tv.

Setelah mengikuti rangkaian pelatihan dasar, pelatihan untuk menjadi pelatih (training of trainer), pengimbasan dan pelatihan tingkat lanjut, rupanya para pendidik saling bersiasat. Beberapa kali tatap muka dan berjumpa dengan sesama pendidik dari sekolah lain, bahkan lintas kabupaten, simpul solidaritas lahir dari inisiatif mereka, karena merasakan satu kebutuhan yang sama, yaitu membumikan literasi digital kepada siswa SD dengan menarik, berdampak, dan berkelanjutan. 

Di Kebumen, misalnya. Pada saat pengimbasan, antar guru dari lintas sekolah saling berkoordinasi dalam menyiapkan materi dan metode. Hasilnya, para pendidik ini menciptakan model pembelajaran yang inovatif dan berhasil menggaet antusias siswa. Menariknya, inovasi ini juga tampak dari cara mereka mengintegrasikan materi tentang literasi digital dengan mata pelajaran sehari-hari, sehingga tanpa perlu membuat kurikulum khusus tentang literasi digital, materi keamanan ini bisa tetap disampaikan dengan baik melalui mata pelajaran yang sudah ada. Misalnya, pengetahuan tentang membedakan informasi hoaks dan fakta bisa dimasukkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, etika digital bisa diintegrasikan dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila. 

Begitu juga saat pelatihan tingkat lanjut. Diskusi dan rencana semakin berkembang ketika para pendidik mulai merespons tentang kecerdasan artifisial. Kemampuan mereka dalam menguji coba mesin ini ditantang dengan siasat mengembangkan bahan ajar yang aman. Perkembangan teknologi yang sangat mudah diserap oleh peserta didik sedikit mencemaskan mereka, sehingga menantang diri untuk mencoba segala bentuk kecerdasan artifisial juga menjadi pengalaman unik. Mereka membaginya satu sama lain, mulai dari nama atau jenis mesinnya, cara kerja, hingga perbandingan antara satu mesin dengan mesin lainnya. 

“Saya sudah pernah memberikan pembelajaran lewat kuis dan ternyata anak-anak lebih suka, lebih menarik dan lebih aktif untuk mencoba hal tersebut… Dengan cara itu anak-anak lebih antusias belajarnya. Jadi tidak monoton duduk di kelas tapi mereka aktif bergerak… AI atau pun alat digital lainnya menurut saya sangat membantu pembelajaran, positifnya banyak,” ucap Nia Sulastri, Guru SD Negeri 2 Pangandaran, Jawa Barat.

Program yang semula dirancang untuk membumikan literasi digital justru berjalan lebih jauh menjadi ruang untuk saling belajar bersama. Kolaborasi ini juga terwujud dari dukungan para sekolah yang proaktif mendorong para pendidiknya untuk mengupayakan yang terbaik dan terbuka pada setiap perkembangan teknologi. 

Perkembangan teknologi yang semakin hari terkesan semakin memudahkan mobilitas manusia, tidak terkecuali para pendidik ini, memunculkan tantangan baru untuk tetap berjalan bersama tanpa tunduk pada pencurian data dan privasi. Solidaritas untuk saling mengingatkan dan membagi pengalaman mencoba teknologi, serta menambal sulam pengetahuan tentang keamanan di baliknya adalah upaya untuk menjaga agar hubungan antara manusia dengan teknologi bukanlah sebentuk ketergantungan. Teknologi yang diciptakan dari, oleh, dan untuk manusia adalah sebuah ikhtiar untuk bersiap dalam menghadapi berbagai situasi maupun ancaman, baik fisik maupun digital, yang lahir dari kolektivisasi pengetahuan serta kemauan untuk belajar dan terus berkembang.[]

Related posts
ARTIKELOPINI

Dari Desa untuk Pembangunan: Menguatkan Kedaulatan Data Melalui Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya

Sampai saat ini, banyak desa di Indonesia masih mengalami proses pendataan yang sering datang silih berganti. Ada pendataan kemiskinan, kesehatan, potensi desa,…
ARTIKELBERITA

Building a Digital Fortress on the Southern Coast: A Closer Look at the SCILLS Program in Kebumen

Combine Resource Institution (CRI), Pujiono Centre, and the Internet Society Foundation (ISOC Foundation) visited Tegalretno Elementary School in Kebumen, Central Java, on…
BERITATERBITAN CRI

Lindungi Anak di Ruang Digital, Peluncuran Modul Menjadi Guru Sekolah Dasar di Era Digital.

Combine Resource Institution bersama Pujiono Centre dan didukung oleh Internet Society Foundation telah menyusun modul Menjadi Guru Sekolah Dasar di Era Digital….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *