BERITAULASAN

Inisiatif dan Siasat Warga Hadapi Corona

Dibaca 4 Menit

Tidak pernah ada yang siap menghadapi pandemi. Namun, dari ketidaksiapan tersebut, warga terus bersiasat untuk tetap berdaya dengan menciptakan berbagai alternatif.

Pandemi Covid-19 tidak hanya berefek pada kualitas kesehatan masyarakat. Karakter virus yang memiliki tingkat penularan tinggi menyebabkan pemerintah menghimbau masyarakat untuk mengurangi semua aktivitas di luar yang melibatkan banyak orang.

Hal tersebut memberikan dampak yang signifikan bagi warga dalam berbagai aspek seperti sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan ritual keagamaan. Semua orang perlahan-lahan belajar untuk beradaptasi dengan pandemi. Namun begitu, berbagai tantangan tentu dihadapi oleh warga. Oleh karenanya, warga pun terus bersolidaritas dan bersiasat.

Cerita-cerita baik tentang keterlibatan warga dalam menghadapi pandemi tergambar dari antusiasme peserta Anugerah Jurnalisme Warga (AJW) 2020. Praktik-praktik baik warga ini mencakup hal yang sangat personal maupun kolektif. Mulai dari bagaimana warga berinisiatif menggalang donasi berbagi nasi (terutama untuk warga yang kehilangan penghasilan karena pekerjaan mereka bersifat informal), menyusun tata kelola informasi terkait Covid-19 di tingkat terkecil seperti Rukun Tetangga (RT), menyelenggarakan sekolah alternatif bagi siswa yang kesulitan belajar online, hingga pengalaman-pengalaman personal seseorang yang terpaksa menyelenggarakan tradisi atau ritual secara daring.

Salah satu kisah menarik mengenai bagaimana warga menghadapi sistem pembelajaran online dirasakan oleh warga di sekitar Banyuwangi. Sistem pembelajaran online memang sudah kerap diselenggarakan. Namun begitu, sistem ini rupanya menjadi tantangan tersendiri, baik bagi guru, orang tua, maupun anak. Pola pikir orang tua saat ini masih melihat bahwa pendidikan anak adalah tugas guru dan sekolah. “Padahal selepas mereka pulang dari sekolah, orang tua pun juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya,” kata Tunggul Harwanto, Pegiat Rumah Literasi Indonesia (RLI).

Persoalan ini memang menjadi perbincangan hangat para orang tua, tentang sistem belajar online yang dirasa kurang bersahabat dan menyulitkan. Tidak hanya itu, karut-marutnya sistem belajar online juga dilatarbelakangi oleh berbagai faktor. Melalui RLI, Tunggul dan kawan-kawannya melakukan survei mengenai sistem belajar online di tengah pandemi. “Pertama keluarga yang tidak memiliki akses, baik akses terhadap internet maupun alat. Kedua orang tua memiliki akses tetapi tidak dapat mengoperasikan alat, dan terakhir adalah kejenuhan yang menyebabkan anak mengalami stres,” jelas juara pertama AJW 2020 kategori video ini.

RLI sebenarnya telah mengusung gagasan mengenai pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak setelah jam di luar sekolah. Hal tersebut telah mereka gagas sejak lama, tepatnya sejak 2017. Untuk mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi karena pola pikir tersebut, RLI menggagas Sekolah Pengasuhan Berbasis Komunitas.

Program ini melibatkan sekolah, rumah baca dan orang tua sebagai elemen yang berkolaborasi untuk membangun ekosistem pendidikan yang positif. Saat ini RLI berjejaring dengan 57 rumah baca yang tersebar di Banyuwangi dan Jember. Dalam perkembangannya, orang tua pun terlibat aktif dalam penyusunan kurikulum. “Sekarang sudah ada sekitar sembilan kurikulum, di antaranya mencakup literasi media, literasi finansial, hingga persoalan-persoalan tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT),” jelasnya.

Tunggul juga menjelaskan bahwa kesadaran akan pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak baru benar-benar terpicu karena adanya pandemi. “Pandemi ini membuat banyak orang tua sadar bahwa tanggung jawab pendidikan anak tidak hanya dipikul oleh guru dan sekolah,” katanya.

Situasi pandemi juga menyebabkan beberapa tradisi dan ritual keagamaan yang awalnya dilakukan secara kolektif dan di tempat terbuka, mesti tertunda atau bahkan dibatalkan. Selain salat Id yang tidak diselenggarakan seperti tahun-tahun sebelumnya, umat Hindu juga mengalami hal serupa terkait dengan beberapa ritual yang semestinya dilakukan secara kolektif.

Hal ini dirasakan oleh Kadek Doi Rahayu yang menyelenggarakan acara otonan untuk putrinya di masa pandemi secara daring. Otonan adalah upacara peringatan hari kelahiran dengan melaksanakan upacara Yadnya berdasarkan satu tahun Wuku setiap 210 hari. Jatuhnya otonan akan bertepatan sama persis dengan; Hari, Panca Wara, dan Wuku yang sama. Menurut tradisi umat Hindu di Bali, dalam upacara 'ulang tahun' ini dilaksanakan dengan penuh doa-doa kebaikan untuk si anak yang diupacarai agar "Lantang tuwuh, mauwat kawat, mabalung besi". “Di video yang saya kirimkan untuk AJW juga saya tuliskan serupa, doa agar anak kami bertumbuh dengan sehat, diberikan kekuatan dan semangat dalam mengarungi kehidupan,” jelasnya.

Bagi Kadek, otonan kali ini terasa istimewa karena pelaksanaannya dilakukan secara daring. Ketika pandemi terjadi, ia dan  keluarganya menetap di Tangerang Selatan. “Padahal kami sudah siap untuk pulang kampung ke Bali,” ujarnya.

Pada umumnya tigang (3) oton adalah salah satu upacara yang dirayakan beramai-ramai dengan sanak saudara dan karena tergolong upacara yang besar maka dipimpin oleh Pinandita (orang suci). Tapi dengan segala penyesuaian akhirnya format acara diubah dengan lebih sederhana, dirayakan oleh beberapa keluarga yang terhubung lewat video call dan dipimpin oleh sang ayah mertua di rumah keluarga besar. “Keputusan ini tidak serta merta kami ambil begitu saja, ada proses komunikasi dan konsultasi yang panjang sebelumnya dengan para tetua,” jelasnya.

Sebagai salah satu Pemenang AJW 2020, Kadek Doi merasa sangat terbantu dengan adanya wadah-wadah jurnalisme warga di daerah. Beberapa kali, ia sempat mengadakan dan mengikuti webinar kolaborasi antarinstitusi dan menulis mengenai partisipasi dan solidaritas warga dalam menghadapi masa sulit sebagai kunci utama. Salah satu isu yang menjadi perhatiannya adalah kesehatan mental keluarga. 

Kesehatan mental keluarga ini erat kaitannya dengan literasi digital. Sebab, situasi pandemi yang mengharuskan setiap orang harus online membuat mereka mesti memahami bagaimana memanfaatkan teknologi digital dengan baik dan benar. “Keadaan sekarang ini mengharuskan kita untuk paham literasi digital dan berinternet yang sehat. Mengajak orang tua untuk ikut cerdas memanfaatkan teknologi sangat penting dalam menjaga kewarasan dari ‘hoax dan tsunami informasi’ di portal berita atau grup sosmed keluarga,” jelasnya.

Menurut Kadek, literasi digital menjadi semakin penting terutama dalam upaya melindungi anak dari kejahatan di dunia maya. Kesehatan mental menjadi penting jika dikaitkan pula dengan beberapa kebijakan yang membatasi pergerakan dan mengharuskan agar tetap di rumah saja. “Adalah sebuah keharusan bagi kita semua untuk menciptakan atmosfer yang aman dan nyaman dalam keluarga. Sedih sekali saya membaca berita jika kasus KDRT meningkat. Upaya-upaya untuk menumbuhkan kebersamaan dalam keluarga harus lebih digencarkan lagi,” ujarnya.

Keterangan: Foto adalah publikasi rumahliterasiindonesia.org. Foto diambil pada tahun 2019.

Related posts
OPINIULASAN

Media Warga di Kala Wabah: Bagi Sembako Hingga Semprot Disinfektan

Salah satu kunci daya tahan warga di tengah krisis adalah solidaritas. Media warga adalah salah satu manifestasinya. Tulisan ini ingin bercerita tentang…
BERITA

Merayakan Jurnalisme Warga di Tengah Pandemi

Pada mulanya “Tut Bahari Handayani”, tetapi sejak virus korona menyerang, Anugerah Jurnalisme Warga 2020 berganti tema menjadi “Urun Daya Warga Menghadapi Corona”….
OPINI

Strategi Tingkatkan Akurasi Data COVID-19 dengan SID Berdaya

Kebutuhan tata kelola data dalam penanganan COVID-19 saat ini cukup kompleks. Secara khusus, pemerintah melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 lebih berfokus…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *