BERITA

Tinggal Klik, Ribuan Orang Turun ke Jalan

Dibaca 2 Menit

Seribuan warga Yogyakarta dari ragam kalangan yang sebal dan marah dengan indikasi upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta menyebarkan virus pesan mereka dan mengorganisasi diri lewat Twitter dengan tanda pagar (#): #GerudukJogja (Gerakan Dukung KPK dari Rakyat Jogja).

Itu adalah respon terhadap isu dan gerakan yang berkeliaran di netizen Jakarta dengan tagar #SaveKPK yang pertama kali berkumandang sejak 10 September 2012. Tagar #SaveKPK lantas meruncing pada 5 Oktober 2012 ketika ada upaya menangkap Novel Baswedan, salah satu penyidik Polri di KPK yang masih bertahan.

Gampang saja publik menganggap jika penangkapan itu sebagai salah satu upaya Polri melemahkan KPK yang sedang mengusut dugaan korupsi “Simulator SIM Polri” dan membuat sentimen dukungan terhadap KPK meningkat. Sebaliknya, sentimen negatif terhadap Polri kian menjadi.

“Dengan Jakarta hanya keterkaitan isu saja. Aksi ini (#GerudukJogja) cenderung lebih menekan presiden untuk segera mengambil sikap,” kata Antok Suryaden, presiden BloggerNusantara, Selasa (9/10/12), lewat pesan BlackBerry-nya.

Menurut netizen yang juga aktif di @JogloAbang itu, #GerudukJogja sebenarnya cuma diawali dengan ajakan para netizen Yogyakarta lewat Direct Message (pesan langsung) Twitter. Kampanye untuk turut pada aksi #GerudukJogja juga kebanyakan lewat Twitter. Santernya berita tentang KPK di media massa yang diikuti banyak orang turut menjadi faktor pendukung cepatnya virus #GerudukJogja menyebar.

“Terbukti hanya dengan social media mereka mau datang beraksi membuat rantai manusia, serta tak lepas dari dukungan admin-admin Twitter @JogjaUpdate, @jalinmerapi, @lalinjogja, @infoseni, dan @jogloabang,” kata Suryaden.

Statistik perbincangan ber-tagar #GerudukJogja di jagat Twitter lewat Topsy menunjukkan, pada hari pertama ketika #GerudukJogja mulai muncul, Sabtu (6/10/12), jumlahnya mencapai 1109 kali perbincangan. Sehari kemudian, Minggu (7/10)/12) ketika aksi #GerudukJogja dimulai pada pukul 19.30 WIB, ia dibincangkan sebanyak 2078 kali. Angka tersebut menunjukkan betapa perhatian publik terhadap isu tersebut begitu besar.

Twitter telah Menjadi Gerakan Sosial?

Untuk soal yang satu ini Pakar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) jebolan The University of Manchester Yanuar Nugroho punya catatan kritis. Lewat akun Twitter-nya @yanuarnugroho, ia menulis, “yg lebay soal peran socmed: aksi offline TETAP perlu. sabtu dinihari di KPK contohnya. prbahan tak prnh bdimensi tunggal.”

Sementara itu, pakar netizen lain dari ICT Watch Donny BU coba mengingatkan lewat akun twitter-nya @donnybu, “Selama sosmed baru bisa mengangkat isu yg ada di Jakarta dan dibantu diliput oleh media massa nasional, belum saatnya kita (netizen) berpuas diri :).”
Menurut Donny, kedigdayaan sosial media macam Twitter masih harus dibuktikan. Terutama bila menyangkut isu yang jauh dari episentrum ibukota dan kepungan sorotan media massa nasional.

“Tp jika sbg contoh kasus, bahwa sosmed bisa mendorong bereaksinya presiden atas kasus kpk-polri, sah2 saja. Tp diingat jg faktor2 lainnya ya,” lanjut Donny lewat akun twitternya.

Suryaden mengakui memang peran Twitter dan netizen dalam kasus #GerudukJogja bukan satu kemutlakan. Sebelum tagar #GerudukJogja membanjiri jagat Twitter, beberapa netizen dan aktivis Yogyakarta telah berkonsolodisi untuk mematangkan rencana aksi. Isu yang sudah digencarkan oleh media nasional juga memudahkan gerakan serupa di Yogyakrta.

“Selain karena isu yang sudah ada di media, aksi yang damai dan lunak, dan di malam hari sehingga tidak menganggu kerja turut memudahkan. Aksi ini benar-benar baru. Tidak ada agitasi sama sekali,” kata Suryaden.

Warga yang turut aksi hanya diajak untuk bergandengan tangan dari Tugu Yogyakarta ke arah Jl. Malioboro, Yogyakarta. Aksi kemudian dilanjutkan dengan longmarch sampai Istana Presiden Gedung Yogyakarta.

Suryaden menambahkan gerakan sosial dengan memakai pola aktivisme internet, terutama lewat media sosial, bisa dilakukan di mana saja dan dengan isu apa pun.

“Syarat khusus untuk kegiatan seperti ini (#GerudukJogja) pastinya adalah melek sosial media dan cara membahas isu lebih enteng, menarik, dan ada jaminan tidak rusuh,” kata Suryaden lagi.

Tidak mengherankan bila yang turut kemarin dalam #GerudukJogja, Minggu (7/10/12) berasal dari semua kalangan. Yang bersepeda onthel, pejalan kaki, naik motor, sampai bermobil lengkap dengan keluarganya menjadi satu nyatakan sikap dukungan terhadap KPK serta meminta ketegasan presiden.

Kendati demikian, masih ada saja suara miring yang mengatakan gerakan sosial yang berawal atau dengan menggunakan aktivisme di internet cuma perbuatan kalangan menengah belaka.

“Sulit untuk mengatakan apakah hanya gerakan kaum menengah atau bukan,” kata Suryaden. “Namun,” tegas Suryaden, “kelas menengah apabila melihat ada event yang menarik dan aksinya simpatik, mereka tidak terlalu pikir panjang untuk ikut.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.