Tata Kelola Pengetahuan untuk Gerakan Perempuan

COMBINE Resource Institution (CRI) memfasilitasi tata kelola pengetahuan untuk gerakan perempuan di Surakarta. Selama dua hari, 1-2 Maret 2012, Koordinator Manajemen Pengetahuan CRI, Yossy Suparyo, melatih pegiat Yayasan Krida Paramita (YKP) untuk membangun lingkaran belajar dalam pengelolaan program-programnya.

Yayasan Krida Paramita termasuk kelompok organisasi nonpemerintah (ornop) generasi pertama di Indonesia. Lembaga ini didirikan pada 20 Mei 1989 oleh sekelompok aktivis yang memiliki minat pelayanan pada masyarakat melalui pengembangan sanitasi masyarakat, hubungan bank dengan kelompok swadaya masyarakat, promosi kesehatan terpadu, dan pengembangan ekonomi kerakyatan.

Setelah era reformasi 1998, YKP berkembang menjadi lembaga yang fokus pada pengorganisasi masyarakat dan pendidikan politik (kelompok perempuan), penanganan kasus perempuan korban kekerasan, advokasi kebijakan publik, dan pengembangan ekonomi perempuan. Kasus kekerasan yang paling banyak menimpa perempuan adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sedangkan anak-anak banyak menghadapi kasus eksploitasi seksual anak (eska).

Meskipun 23 tahun berkiprah di dunia gerakan perempuan informasi kegiatan, kajian, dan laporan kerja YKP sulit ditemukan di dunia internet. Kondisi ini menjadi keprihatian Direktur YKP Surakarta, Tumiriyanto, sehingga mengundang CRI untuk memfasilitasi strategi manajemen pengetahuan di lembaganya.

“Pengetahuan dan pengalaman YKP dalam pengelolaan program sebagian besar masih berada dalam benak para pegiatnya. Melalui dukungan website lembaga, kita ingin berbagi informasi dengan khalayak umum,” jelas Tumiriyanto.

Pada hari pertama (1/3/2012) peserta diajak melakukan pemetaan pengetahuan kelembagaan, pelaporan cepat melalui twitter, dan pembuatan formulir basis data. Pada pemetaan pengetahuan, peserta membedakan pengetahuan lembaga dan pengetahuan individu. Lalu, pengetahuan tacit dan pengetahuan eksplisit. Pelaporan melalui twitter dilakukan untuk pengelolaan informasi kegiatan secara real time.

“Bila semua kegiatan bisa cepat dilaporkan, maka kita bisa mengambil keputusan secara cepat untuk mengelola program secara rinci,” lanjutnya.

Pada hari kedua, para pegiat YKP dilatih membuat dan mengelola konten di website lembaga. Pembuatan website cukup mudah dipelajari karena menggunakan teknologi web 2.0. Para pegiat YKP tidak perlu belajar pemrograman web secara khusus karena antarmuka CMS (content management system) sudah berupa grapik.

Setelah pelatihan, YKP Surakarta telah memiliki website sendiri dengan alamat http://ykp.or.id. YKP akan mempergunakan website ini untuk mendokumentasikan kerja-kerja kelembagaan.

You may also like...

Leave a Reply