Tahun-tahun belakangan tampaknya menjadi waktu yang tidak mudah bagi aktor masyarakat sipil. Kami tidak ingin memupuk pesimisme, namun mencoba melihatnya secara lebih realistis.
Sepanjang tahun ini, kami menyaksikan bagaimana ruang sipil terus dipersempit—bukan hanya melalui represi konvensional seperti intimidasi dan penangkapan yang kembali meningkat setelah lebih dari 20 tahun Reformasi, tetapi juga melalui kekerasan digital yang semakin canggih: peretasan, doksing, penyalahgunaan data pribadi, hingga pembredelan akun media sosial aktivis. Negara yang seharusnya melindungi warganya, justru kerap hadir sebagai ancaman. Di tengah situasi itu, kami terus bekerja. Bukan karena kami tidak takut, tetapi karena kami percaya bahwa berhenti bukan pilihan.
Laporan tahunan ini adalah cara kami bercerita—tentang apa yang kami kerjakan, dengan siapa, dan mengapa itu penting.
Dalam urusan pemberdayaan komunitas, kami memperkuat pendekatan yang kami sebut resiliensi holistik. Dengan pendekatan connect-defend-act, kami mendampingi aktivis, pembela HAM, dan penggerak organisasi masyarakat sipil (OMS) agar tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu membangun sistem keamanan kolektif yang kokoh. Kami bergerak di Yogyakarta, Lombok, hingga wilayah-wilayah terdampak transisi energi dan kerusakan ekologi akibat Proyek Strategis Nasional. Bersamaan dengan itu, melalui program SCILLS, kami hadir di 39 sekolah dasar di delapan kabupaten pesisir selatan Jawa—menyiapkan skenario tanggap darurat saat bencana dan memastikan anak-anak di wilayah rawan bencana tetap bisa belajar.
Di ranah tata kelola data dan sistem informasi, kami melanjutkan komitmen panjang kami bersama desa-desa di Sleman dan Buleleng serta beberapa daerah lain. Kami tidak memandang teknologi sebagai solusi teknis semata—bagi kami, sistem informasi adalah praktik sosial yang menempatkan warga sebagai subjek, bukan sekadar angka dalam basis data.
Di sisi komunikasi dan pengetahuan, kami terus mendokumentasikan kerja-kerja lapangan dan memperluas jejaring. Dari Open Tech Camp di Penang, DRAPAC25 di Kuala Lumpur, Urban Social Forum di Denpasar, hingga Pasar Kolaboraya di Yogyakarta—kami percaya bahwa pengetahuan yang tidak dibagikan akan mati. Maka kami terus bercerita, menerbitkan modul, menulis artikel, dan mempertemukan orang-orang yang bergerak dalam satu visi.
Soal keberlanjutan lembaga, kami juga harus jujur. Unit usaha guest house yang kami rintis mencatat penurunan pendapatan di tahun ini—bukan karena pelayanan menurun, melainkan karena imbas pelemahan ekonomi nasional yang memukul banyak sektor. Tapi kami enggan sekadar mengutuki keadaan. Tahun ini muncul juga optimisme karena pusat pelatihan (training center) yang kami rancang sejak beberapa tahun terakhir mulai diluncurkan. Ini menjadi harapan baru di tengah kelesuan sektor lain. Kemandirian finansial tetap menjadi agenda yang tidak kami tunda.
Terakhir, tentu saja laporan ini bukan dokumen sempurna. Di dalamnya ada keberhasilan yang patut disyukuri, dan ada juga keterbatasan yang harus kami akui. Kami mempersembahkannya sebagai bentuk akuntabilitas kepada komunitas, mitra, dan publik yang telah mempercayai kami.
Ferdhi F. Putra
Direktur Combine Resource Institution

