Site icon Combine Resource Institution

Across Cultures and Comfort Zones: My Bridge Year in Indonesia

As my Bridge Year Program comes to a close, I reflect on the unique experiences during my time abroad in Indonesia. Over this past year since August 2025, I had the opportunity to intern with Combine Resource Institution (CRI), focusing on digital literacy and security in community development. This journey into an unfamiliar environment becomes one of the most meaningful and transformative experiences of my bridge year.

One of the most defining aspects of this experience has been learning to adapt. This was the first time being far from home, which also meant stepping outside of everything familiar—langauge, culture, environment—and learn to navigate through it. This adjustment period started early with my first assignment involving learning and familiarizing myself with CRI’s structure and organization by interviewing members from each core unit. I remember feeling anxious going into these conversations, especially since I was expected to take the initiative and engage with individuals I had just met. I had to adjust to different communication styles and in a new professional environment. This assignment was an important step to understand how the NGO functioned, while also building connections within the organization. 

Michelle saat presentasi di Kelas Belajar.

At the same time, the language barrier constantly remained a challenge, especially overwhelming in my adjustment period. With my small vocabulary I easily mixed up my words, creating many frustrating and embarrassing moments. During many events and programs CRI hosted, I struggled to follow the conversations and missed details in discussions. However, over time through constant interaction, I learned to rely on context clues, key words, and non-verbal communication to paint the whole picture. Although my bahasa Indonesia is still not perfect, I’ve grown confident in navigating through conversation, making me feel more connected in the workspace.

The most meaningful aspect that made my experience so treasurable is the strong connection I’ve built within CRI. Language becomes more than just a tool, but a bridge of connection that transcends barriers and gateway into someone else’s world. The relationships I formed made the environment feel genuine rather than just a workplace. This connection has made coming into work feel personal, turning it into something truly valuable. It wasn’t just about completing tasks or fulfilling responsibilities, but about being part of a community.

Michelle bersama Ibu dari hostfamily di Indonesia.

Through the NGO work, it has also increased my understanding and awareness of global and local issues. Working topics such as digital literacy and security in community development has made me more aware of the importance of accessibility, education and proactive planning in creating safer and empowered communities. One of the most memorable moments was participating in field work. I had the opportunity to visit an elementary school in Kebumen and witness the CRI’s hard work first hand. During the visit I observed students engaging in interactive activities on digital literacy, guided not only by the SCILLS project, but also by their own teachers who were taking the lead in implementing these practices. What stood out to me was how engaged and enthusiastic the students were. Many were eager to participate, which made the atmosphere energetic and genuine. All the partners  observed the students with a sense of pride. In that moment, the efforts of CRI have become something real and visible, reinforcing the importance of initiatives in supporting and empowering communities.

On an inner-personal level, this experience has pushed me to become independent and confident. Even simply practicing bahasa Indonesia in daily interaction has made my journey meaningful. Along the way, I’ve made mistakes, gotten lost and confused, and endured through the uncomfortable. However, these struggles are part of the process.  With each mistake and embarrassment, came the refinement, clarity and the confidence to continue to persevere and navigate through the next challenge.

Halloween Party bersama Where There be Dragon team dan tim CRI.

Looking back, this experience has been both challenging and rewarding. It dropped me outside of my comfort zone, while also giving me a chance to discover a stronger sense of who I am as I learn to navigate through a different world. Moving forward, I know that the skills, perspectives, and relationships I’ve gained will contribute to how I approach new environments, challenges, and opportunities.


Melintasi Budaya dan Zona Nyaman: Tahun Jeda Saya di Indonesia

Seiring dengan berakhirnya Bridge Year Program saya, saya merefleksikan pengalaman unik selama tinggal di Indonesia. Selama satu tahun terakhir sejak Agustus 2025, saya berkesempatan untuk magang di Combine Resource Institution (CRI), dengan fokus pada literasi dan keamanan digital dalam pengembangan komunitas. Perjalanan ini, di lingkungan yang sebelumnya asing bagi saya, menjadi salah satu pengalaman paling bermakna dan transformatif dalam masa bridge year saya.

Salah satu aspek paling penting dari pengalaman ini adalah belajar untuk beradaptasi. Ini adalah pertama kalinya saya berada jauh dari rumah, yang berarti saya harus keluar dari segala hal yang familiar—bahasa, budaya, dan lingkungan—serta belajar untuk menavigasinya. Masa penyesuaian ini dimulai sejak awal, dengan tugas pertama saya yang mengharuskan saya memahami struktur dan organisasi CRI melalui wawancara dengan anggota dari setiap unit inti. Saya ingat merasa cemas sebelum memulai percakapan-percakapan tersebut, terutama karena saya diharapkan untuk mengambil inisiatif dan berinteraksi dengan orang-orang yang baru saya temui. Saya juga harus menyesuaikan diri dengan berbagai gaya komunikasi dalam lingkungan profesional yang baru. Tugas ini menjadi langkah penting untuk memahami bagaimana NGO ini bekerja, sekaligus membangun koneksi di dalam organisasi.

Di saat yang sama, hambatan bahasa menjadi tantangan yang terus saya hadapi, terutama pada masa awal penyesuaian yang terasa sangat berat. Dengan kosakata yang masih terbatas, saya sering kali tertukar dalam memilih kata, yang menimbulkan banyak momen yang membuat frustrasi sekaligus memalukan. Dalam berbagai acara dan program yang diselenggarakan oleh CRI, saya sering kesulitan mengikuti percakapan dan melewatkan detail penting dalam diskusi. Namun, seiring waktu dan melalui interaksi yang terus-menerus, saya belajar untuk mengandalkan konteks, kata kunci, dan komunikasi non-verbal untuk memahami keseluruhan situasi. Meskipun kemampuan bahasa Indonesia saya masih belum sempurna, saya menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi, yang membuat saya merasa lebih terhubung di lingkungan kerja.

Aspek yang paling bermakna dan membuat pengalaman ini begitu berharga adalah hubungan yang saya bangun di dalam CRI. Bahasa menjadi lebih dari sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi jembatan yang melampaui batasan dan membuka pintu untuk memahami dunia orang lain. Hubungan yang saya bentuk membuat lingkungan kerja terasa tulus, bukan sekadar tempat bekerja. Koneksi ini membuat saya merasa bahwa datang ke kantor bukan hanya tentang menyelesaikan tugas atau memenuhi tanggung jawab, tetapi juga tentang menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Melalui pekerjaan di NGO ini, pemahaman dan kesadaran saya terhadap isu-isu global dan lokal juga semakin meningkat. Bekerja dengan topik seperti literasi dan keamanan digital dalam pengembangan komunitas membuat saya semakin menyadari pentingnya aksesibilitas, pendidikan, dan perencanaan yang proaktif dalam menciptakan komunitas yang lebih aman dan berdaya. Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat saya terlibat dalam kegiatan lapangan. Saya berkesempatan mengunjungi sebuah sekolah dasar di Kebumen dan melihat langsung hasil kerja keras CRI. Dalam kunjungan tersebut, saya mengamati siswa-siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan interaktif tentang literasi digital, yang dipandu tidak hanya oleh proyek SCILLS, tetapi juga oleh guru-guru mereka yang mengambil peran utama dalam menerapkan praktik tersebut. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah antusiasme para siswa. Banyak dari mereka sangat bersemangat untuk berpartisipasi, menciptakan suasana yang hidup dan tulus. Para mitra yang hadir juga mengamati para siswa dengan rasa bangga. Pada saat itu, upaya CRI menjadi sesuatu yang nyata dan terlihat, yang semakin menegaskan pentingnya inisiatif dalam mendukung dan memberdayakan komunitas.

Secara pribadi, pengalaman ini mendorong saya untuk menjadi lebih mandiri dan percaya diri. Bahkan hal sederhana seperti berlatih bahasa Indonesia dalam interaksi sehari-hari telah membuat perjalanan ini menjadi bermakna. Sepanjang proses ini, saya membuat kesalahan, merasa tersesat dan bingung, serta menghadapi berbagai ketidaknyamanan. Namun, semua itu merupakan bagian dari proses. Dari setiap kesalahan dan rasa malu, saya memperoleh pembelajaran, kejelasan, dan kepercayaan diri untuk terus melangkah dan menghadapi tantangan berikutnya.

Melihat kembali perjalanan ini, pengalaman ini penuh dengan tantangan sekaligus penghargaan. Pengalaman ini membawa saya keluar dari zona nyaman, sekaligus memberi saya kesempatan untuk menemukan jati diri yang lebih kuat saat saya belajar menavigasi dunia yang berbeda. Ke depan, saya yakin bahwa keterampilan, perspektif, dan hubungan yang saya peroleh akan membentuk cara saya menghadapi lingkungan baru, tantangan, dan berbagai peluang yang akan datang.


Michelle Nguyen adalah mahasiswa S1 di Universitas Princeton yang sedang kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) melalui Bridge Year Program. Dia berasal dari Vietnam dan tinggal di Amerika Serikat. Ia memiliki minat terhadap sains, engineering, dan hal-hal yang erat kaitannya dengan teknologi. Saat ini dia telah menyelesaikan program magangnya di Combine Resource Institution.

Exit mobile version