Cerita transformasi metode pembelajaran konvensional menuju digital.
Apa yang pertama kali terlintas di kepala kalian ketika mendengar kata keamanan dan digital. Beberapa mungkin akan spontan menjawab password, dan yang lainnya mungkin akan langsung terbayang kasus-kasus keamanan digital seperti doxxing, phishing, carding, malware dan ransomware. Perkembangan teknologi saat ini disadari atau tidak juga ikut merombak tatanan sosial. Digitalisasi dalam berbagai aspek kehidupan kemudian menggeser bagaimana manusia saling terkoneksi satu dengan lainnya. Hadirnya sosial media sebagai contoh bagaimana internet dan teknologi kemudian mewujudkan interaksi antar individu tanpa perlu bertemu langsung.
Melihat lebih dekat, perkembangan “teknologi” digital ternyata tak hanya berimbas pada aspek sosial saja, hal ini dapat juga kita lihat dalam aspek pendidikan di Indonesia. Kita tentu menyadari, pendidikan memiliki peran yang sangat krusial bagi setiap individu dalam membentuk dan mengembangkan keterampilan hidup. Namun teknologi dan tatanan sosial yang berubah ternyata juga ikut menyeret ruang-ruang pendidikan khususnya bagi tenaga pengajar untuk turut serta menyesuaikan diri.
Transformasi metode mengajar dari konvensional menuju digital tentu tidak serta merta datang begitu saja. Proses dan peran berbagai pihak sangatlah penting pada fase ini. Menariknya kita bisa mengetahui bagaimana perjalanan ruang-ruang ini beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan digitalisasi melalui sebuah buku.
Buku “Sinyal dari Selatan: Menenun Ketahanan Digital di Pesisir Selatan Jawa” merupakan salah satu gambaran dari serangkaian program SCILLS (Strengthening Communities/Improving Lives and Livelihoods) yang dijalankan oleh Combine Resource Institution dan Pujiono Centre serta didukung oleh Internet Society Foundation. Buku ini telah diluncurkan dalam salah satu rangkaian acara Jagongan Hak Digital 2026 yang diselenggarakan oleh SAFEnet dan Combine Resource Institution pada 2 Agustus 2026 silam.
Buku yang ditulis oleh Aloysius Brama, Aris Harianto dan Melani Jayanti ini bersumber dari cerita-cerita langsung para guru yang mengajar di daerah pesisir selatan pulau Jawa. Cakupan wilayah program ini meliputi 8 kabupaten di 39 sekolah yang berada di Trenggalek, Cilacap, Gunungkidul, Kulon Progo, Kebumen, Cilacap, dan Pangandaran, serta Tasikmalaya. Rangkaian kegiatan dalam program ini meliputi aktivitas Training of Trainers (ToT) literasi dan keamanan digital untuk guru, murid, dan wali murid, pemasangan internet alternatif beserta perangkat pendukungnya.
Kenapa Jawa?
Bukan hal aneh ketika Pulau Jawa lekat dengan banyaknya stereotip, bahkan istilah jawasentris tentu sudah sering kita dengar. Cerita-cerita dari buku ini semuanya berasal dari pesisir selatan Pulau Jawa, lalu apa yang mendasari program ini menyasar wilayah-wilayah pesisir selatan Pulau Jawa?
Pesisir selatan Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah yang rentan baik secara geologis, ekologis, dan bahkan dari aspek sosial ekonomi. Hal ini dikarenakan wilayahnya yang berada di dekat samudra terbuka dan zona aktif patahan tektonik. Banjir, longsor, gempa bahkan tsunami seperti bom waktu di daerah ini. Penjelasan mengapa program ini berlangsung di pesisir selatan Jawa kemudian menjadi sangat relevan. Seperti yang tertulis pada pengantar buku, kita dapat memahami bagaimana salah satu tujuan dari program ini sebagai bentuk aksi nyata dalam upaya memperkuat ketahanan komunitas dan pemahaman darurat di wilayah rawan bencana, seperti pada daerah-daerah di pesisir selatan Pulau Jawa.
Sekilas Cerita dari Pesisir Selatan Jawa
Buku ini memiliki empat judul cerita, di mana setiap cerita berisikan gabungan pengalaman-pengalaman yang serupa dari tenaga-tenaga pengajar maupun orang tua murid. Menariknya buku ini tak hanya menyajikan cerita-cerita menyenangkan tentang bagaimana program ini kemudian berhasil memberikan impak yang positif bagi berbagai pihak, namun juga berisikan pengalaman-pengalaman tak biasa.
Cerita tentang bagaimana tenaga pengajar yang kemudian mau tidak mau mulai mengubah cara mereka mengajar dan menyesuaikan perkembangan teknologi serta gaya hidup anak-anak di era digital saat ini. Ada juga yang menuturkan bagaimana kesadaran akan keamanan digital ini masih perlu dibangun dan disosialisasikan. Beberapa lainnya juga menceritakan pengalaman mereka menemukan murid-murid yang menggunakan internet untuk mengakses situs-situs pornografi.
Membahas perkembangan teknologi, hadirnya Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan juga menjadi salah satu cerita yang hadir dalam buku ini. Tak berhenti sampai di situ, buku ini juga menyoroti bagaimana peran orang tua dalam penggunaan internet dan keamanan digital kemudian menjadi garda terdepan untuk anak-anak mereka. Hal menarik lainnya adalah tak hanya cerita dari tenaga pengajar atau orang tua saja yang dihadirkan dalam buku ini, pengalaman di lapangan dari fasilitator juga ikut di ulik terkait kendala, perbaikan-perbaikan, dan dampak berkelanjutan program.
Buku “Sinyal dari Selatan: Menenun Ketahanan Digital di Pesisir Selatan Jawa” membawa kita pada pengalaman menyelami berbagai cerita dari balik layar peran dan lika liku seorang tenaga pengajar di daerah pesisir yang rentan terhadap berbagai macam bencana. Buku yang sekaligus menjadi pengingat untuk kita semua bagaimana isu keamanan digital perlu gencar disosialisasikan kepada berbagai lapisan masyarakat, baik itu pelajar, orang tua murid, maupun komunitas. Buku ini juga telah memiliki versi digital yang dapat diunduh di bawah ini.

