Combine Resource Institution
Hubungi Kami|Peta Situs|English
space
space
space
Berita
Agenda

(11/09/2009) Diskusi - Strategi Manajemen Kampanye Open Source yang Efektif untuk Masyarakat

[-lead-]Untuk mendukung perolehan informasi dan percepatan komunikasi, kini masyarakat di dunia tidak bisa dipisahkan dengan teknologi pendukungnya, yaitu komputer, koneksi internet, dan perangkat lunak yang menyertainya. Namun hak masyarakat atas informasi rupanya tidak bisa merata karena diperlukan daya beli untuk memperoleh perangkat lunak. Padahal seyogyanya, teknologi informasi ini pun seharusnya bisa diakses secara cuma-cuma. Menghadapi persoalan ini, maka beberapa pihak lalu mengembangkan  Perangkat lunak Sumber Terbuka atau biasa disebut Open Source. Dalam konsep ini, setiap orang bisa mengembangkan dan menggunakan perangkat lunak ini secara cuma-cuma. Dengan keyakinan bahwa informasi adalah hak setiap orang, maka Open source akhirnya menjadi sebuah gerakan pemanfaatan teknologi informasi yang berkeadilan.  
 
Dalam konteks Indonesia, pemanfaatan perangkat lunak yang seharusnya berbayar banyak diterapkan dengan praktek kopi antarkomputer. Inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang dicap pembajak karena telah menandatangani ketentuan hak cipta dalam perdagangan dunia. Ini menjadi dilema, karena kebutuhan masyarakat terhadap teknologi informasi sudah demikian tinggi, tapi kemampuan untuk membeli perangkat lunak berbayar sangat lemah. Menghadapi persoalan ini, pemanfaatan perangkat lunak sumber terbuka seperti Linux merupakan salah satu pilihan.  
 
Combine Resource Institution (CRI) sebagai lembaga penguatan masyarakat sipil melalui pengembangan media komunitas turut mengajak berbagai pihak untuk migrasi ke perangkat lunak sumber terbuka. Langkah ini didasarkan pada semangat bahwa informasi dan komunikasi adalah hak semua orang, tanpa harus dibatasi oleh keterhubungan pada perangkat lunak yang harus berbayar. Semangat ini kemudian antara lain diwujudkan dengan melakukan beragam cara, mulai dari kampanye hingga kegiatan migrasi Open Source, yang ditujukan kepada beragam organisasi, baik organisasi masyarakat sipil, media komunitas, maupun jajaran pemerintahan. Kegiatan ini tidak dilakukan sendiri, tetapi pasti dilakukan secara berjaringan dengan beragam organisasi yang memiliki perhatian yang sama terhadap pembangunan kemandirian masyarakat melalui gerakan Open Source.[-/lead-]

Namun, dalam perkembangannya, masih ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab bersama. Sejarah kampanye Open Source yang memiliki sasaran kepada beragam kalangan tidak atau belum sepenuhnya berhasil. Misal, dalam program Jogja Go Open Source yang dikerjakan bersama oleh CRI dengan Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Yogyakarta dan Pusat Pendayagunaan Open Source Software (POSS) Universitas Gadjah Mada sejak awal tahun 2009 ini, dari 12 lembaga yang dijadikan target kampanye, hanya 6 lembaga yang bersedia meneruskannya menuju proses migrasi. Jadi, bagaimana strategi yang tepat guna untuk membangun gerakan kampanye Open Source yang bisa menghasilkan aksi nyata setelahnya?

Dalam organisasi atau lembaga yang telah dimigrasikan pun masih menyimpan beragam pertanyaan. Mekanisme pengelolaan sistem berbasis Open Source yang dalam pemanfaatannya melibatkan beragam karakter pengguna tentu saja bukanlah hal yang mudah. Harus ada proses pengenalan, penyesuaian, dan bahkan pemaksaan untuk belajar hal yang baru. Bahkan, ada fakta bahwa sebagian pengguna kemudian menuntut agar sistem dikembalikan lagi ke sistem yang menggunakan perangkat lunak berbayar lagi karena merasa tidak cukup menguasai sistem Open Source. Bagaimana proses-proses internalisasi Open Source di setiap organisasi adalah hal berikutnya yang harus didiskusikan bersama. Apa saja kendala yang muncul dan bagaimana langkah penanggulangannya?

Diskusi dengan tema di atas akan digelar dalam nuansa santai jelang berbuka puasa bersama. Sebagai landasan pikir bersama, dipahami bahwa diskusi ini akan mengambil prinsip bahwa organisasi masyarakat sipil dan juga pemerintah adalah teladan dalam proses perubahan sosial. Diskusi atas model kegiatan kampanye dan migrasi yang telah dan sedang digiatkan selama ini akan bisa dijadikan pelajaran ketika gerakan ini coba ditujukan pada kalangan masyarakat yang lebih luas ke depan.

CRI mengundang wakil kelompok masyarakat, organisasi non-pemerintah, akademisi, praktisi teknologi informasi dan komunikasi, serta pemerintah daerah untuk hadir dalam diskusi yang akan diselenggarakan pada:

Hari, tanggal: Jumat, 11 September 2009
Pukul: 15.30 - 17.30
Tempat: Cafe Ruang Jl. Ring Road Utara, Sleman, Yogyakarta (utara Asrama Haji dan SD Islam Al-Azhar, timur perempatan Monumen Jogja Kembali) -- Telp.: (0274) 4463 990

Pembicara:
  1. Elanto Wijoyono (Combine Resource Institution - CRI)
  2. Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Yogyakarta
  3. Drs. Sukadarisman, M.Si (Kabag Teknologi Informasi dan Telematika Pemerintah Kota Yogyakarta)

Moderator: Saiful Bakhtiar

Agenda:
15.30 - 15.35    Pembukaan
15.35 - 15.50    Pemutaran Video Kampanye Open Source
15.50 - 17.30    Diskusi Strategi Manajemen Kampanye Open Source yang Efektif untuk Masyarakat

Undangan:
  1. Kampung Halaman
  2. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Yogyakarta
  3. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS)
  4. KUNCI Cultural Studies
  5. Indonesian Visual Art Archive (IVAA)
  6. Radio Komunitas Lintas Merapi FM, Klaten
  7. Radio Komunitas Angkringan FM, Bantul
  8. Radio Komunitas Balai Budaya Minomartani (BBM) FM, Sleman
  9. Radio Komunitas Menara Siar Pedesaan (MSP) FM, Bantul
  10. Radio Komunitas Panagati FM, Yogyakarta
  11. Radio Komunitas Suara Desa FM, Kulon Progo
  12. Radio Komunitas Murakabi FM, kulon Progo
  13. Konekkraft
  14. Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK)
  15. Koperasi SETARA KLATEN
  16. Jurusan Komunikasi Universitas Islam Indonesia
  17. Masyarakat Peduli Media (A. Darmanto)
  18. Jaringan Saluran Informasi Akar Rumput (SIAR)
  19. Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Yogyakarta
  20. Jurusan Komunikasi Universitas Atmajaya (Antonius Birowo)
  21. Imam Prakoso
  22. Instute for Development and Economics Analysis (IDEA)
  23. Kantor Akuntan Publik (KAP) Soeroso (2 orang)
  24. Kantor Akuntan Publik (KAP) Hadori (2 orang)
  25. Erwin - Konsultan keuangan
  26. Rizka - konsultan keuangan
  27. April - konsultan keuangan
  28. Bastio
  29. Thomas
  30. Afrizal
  31. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Yogyakarta
  32. Dinas Sosial Provinsi D.I. Yogyakarta
  33. Bagian Layanan Teknologi dan Manajemen Informasi Dinas Perhubungan Provinsi D.I. Yogyakarta
  34. Bagian Teknologi Informasi dan Telematika Pemerintah Kota Yogyakarta
  35. SMAN 1 Yogyakarta
  36. Radio MQ FM Jogja
  37. Pusat Pendayagunaan Open Source Software Universitas Gadjah Mada
2
Arsip Agenda
2

Alamat Kantor:
Jl. Ngadisuryan 26 Yogyakarta
Indonesia - 55133

Informasi Kontak:
Telp/Fax : +62 274 418929
Alamat Email : office[at]combine.or.id/

Privacy Policy © 2008 Combine Resource Institution