Laporan Purnaagenda Jagongan Media Rakyat 2016

COVER DEPAN aja

Menganyam Asa untuk Mencapai Tujuan Bersama

Pada jam-jam akhir menjelang penutupan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2016, sejumlah rekan jurnalis menyempatkan diri meliput gelaran tersebut. Dari beragam pertanyaan yang diajukan saat wawancana, ada satu pertanyaan yang dilontarkan nyaris oleh semua jurnalis, yakni: Apakah target JMR 2016 telah tercapai?

Pertanyaan semacam itu terdengar mudah dijawab. Namun, kami harus berpikir panjang sebelum menjawabnya. Jika menggunakan logika sebuah penyelenggaraan acara, kami akan dengan mudah menjawab bahwa apa-apa yang direncanakan dalam JMR yang keempat ini telah terlaksana.

Secara kuantitas, misalnya, seluruh kelas diskusi dan lokakarya yang jumlahnya mencapai 34 sesi, ditambah dengan 15 sesi pemutaran dan diskusi film, sembilan sesi pertunjukan musik, tiga sesi lokakarya seni, satu sesi Rembug Prakarsa, dan satu sesi Dolanan Anak terselenggara dengan lancar. Tentu kami juga memiliki sejumlah poin evaluasi terkait teknis penyelenggaraan JMR pada 21 – 24 April di Jogja National Museum ini.

Selain kelas-kelas yang sudah direncanakan, kami mencatat setidaknya ada dua sesi kelas tambahan yang muncul di hari pelaksanaan. Ada juga momen-momen pertemuan informal yang jumlahnya tidak tercatat karena pertemuan tersebut terjadi begitu saja, ketika sejumlah orang dari berbagai komunitas bertemu lalu klop untuk ngobrol. Pertemuan informal semacam itu kerapkali memantik ide untuk menjalin kerjasama untuk berkolaborasi di kemudian hari.

Dari sisi pengunjung, kami memperkirakan jumlahnya meningkat dibandingkan dengan penyelenggaraan JMR dua tahun silam, yakni sekitar 3.500 orang. Sejumlah wajah yang familiar di setiap penyelenggaraan JMR terus hadir mendukung kegiatan ini, namun kami juga mendapati wajah-wajah baru.

Kami juga mencatat ada lebih dari 100 lembaga dan komunitas yang berpartisipasi dalam kegiatan ini, yang masing-masing berganti peran sebagai penyelenggara diskusi, moderator, narasumber maupun peserta. Sejak awal JMR memang dirancang sebagai agenda kolaboratif. Semua menjadi narasumber sekaligus peserta. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh partisipan JMR 2016.

Akan tetapi, di luar hal-hal yang bisa dilihat dan dihitung selama kegiatan berlangsung, ada satu hal yang sebenarnya menjadi target utama penyelenggaraan JMR dari tahun ke tahun. Yakni adanya kolaborasi antarkomunitas untuk meneruskan kesepakatan dan kesimpulan yang dihasilkan selama momen berbagi ide, gagasan dan pengalaman di JMR.

Tidak mudah memastikan adanya kolaborasi pascapenyelenggaraan JMR. Namun, kami meyakini bahwa kolaborasi itu ada dalam berbagai bentuk. Mulai dari belajar satu gagasan hingga bersinergi dalam suatu kegiatan. Sebagai contoh, kami di Combine Resource Institution adalah pihak yang paling banyak mendapat pelajaran berharga. JMR tidak hanya memperluas jaringan, namun juga memantik munculnya ide dan gagasan baru untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan.

Contoh lainnya disampaikan Dandhy Dwi Laksono dari Watchdoc. Ia mengungkapkan bahwa ide membuat film dokumenter tentang gerakan warga di Yogyakarta yang menolak maraknya pembangunan hotel dan gerakan warga di sekitar Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, menolak pabrik semen muncul setelah bertemu dengan dua komunitas tersebut di JMR 2014. Maka lahirlah film dokumenter “Belakang Hotel” dan “Samin Semen” yang ramai di putar dari kampung ke kampung hingga kampus.

Gelaran JMR 2016 memang sudah usai. Namun, kerja-kerja besar untuk mendukung kemandirian komunitas masih jauh dari kata selesai. Setelah selama empat hari berkumpul dan berbagi, maka kini saatnya untuk kembali bergerak.

Sesuai dengan tema “Menganyam Inisiatif Komunitas”, pertemuan ide, gagasan, dan pengalaman selama JMR 2016 perlu terus dianyam bersama, sehingga menghasilkan kolaborasi antarkomunitas dalam menjawab segala tantangan dan peluang yang ada. Ketika hal itu terjadi, maka kami akan dengan mudah mengatakan bahwa target penyelenggaraan JMR telah tercapai.

You may also like...