Seks, Gender, dan Kesetaraan Gender

“Jika saya menjadi laki-laki, saya akan pergi berkebun, ambil kayu, kasih makan babi, mencabut sawi untuk dijual di pasar, makan lalu istirahat. Saya perempuan,  maka saya biasa memasak, mencuci piring dan pakaian, menyapu rumah, urus babi, tutu (menumbuk-red) jagung, timba air, semprot ulat (hama tanaman jambu mete -red),  lalu menenun.”

Demikian dilontarkan para perempuan perajin tenun pada hari pertama pelatihan “Pengarusutamaan Gender dan Media Komunitas Bagi Pelaku Usaha Kecil” di Uma Pege atau “Rumah Pintar”, Desa Kandahu Tana,  Kodi Utara, Sumba Barat Daya, NTT,  (26/8). Melalui permainan “Jika saya menjadi laki-laki” di atas,  para peserta pelatihan yang digelar Combine Resource Institution bekerjasama dengan Yayasan Donders ini belajar mengenali perbedaan seks dan gender.  Mereka, para perempuan perajin tenun dari Desa Kandahu Tana, Kalena Rongo, dan Homba Karipit ini, menyadari bahwa perempuan bisa melakukan tugas yang biasanya dilakukan oleh laki-laki semisal mendukung ekonomi keluarga lewat menenun. Demikian halnya dengan tugas perempuan  yang bisa dilakukan oleh laki-laki.

“Perempuan dan laki-laki mempunyai peran sosial yang sama. Inilah yang disebut dengan kesetaraan gender,” jelas Andrew Dananjaya selaku fasilitator dari CRI.

Para peserta  mengakui peran mereka sebagai ibu rumah tangga sangat vital di dalam keluarganya.  Tak hanya mengurus anak dan rumah saja, mereka juga memberdayakan diri untuk mendukung suami dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Menenun adalah usaha rumahan yang umum dilakukan para perempuan Sumba. Mereka biasanya menenun ketika tugas-tugas rumah tangga telah selesai setiap hari.

“(Menenunnya) bisa sebelum masak di pagi hari atau siang dan sore setelah tugas rumah selesai. Jadi kalau bapak (suami) istirahat, kami menenun.” Demikian ungkap para ibu perajin tenun ini.

Pelatihan yang diinisiasi oleh divisi Pasar Komunitas CRI ini berlangsung tanggal 26 hingga 29 Agustus 2015. Mengikuti pelatihan selama 4 hari tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Di samping harus mengurus keluarganya sebelum berangkat ke pelatihan,  mereka juga harus menempuh perjalanan hingga sejauh 10 kilometer berjalan kaki yang ditempuh selama 2 jam. Namun demikian, antusiasme para perempuan perkasa ini untuk mengikuti pelatihan tidak main-main.

“Kami ingin belajar bisnis terutama bagaimana menjual kain tenun kami agar bisa dijual lebih  mahal sehingga bisa meningkatkan pendapatan kami. Kami ingin belajar bagaimana pemasarannya dan memperkaya motif tenun, ” jelas Lusia,  peserta dari Desa Kalena Rongo, (26/8). (Apriliana S)

You may also like...