Pelatihan Jurnalistik, Sosialisasi Perlindungan Hukum Bagi Pewarta Warga, dan Inisiasi Media Komunitas

Combine Resource Institution kembali mengadakan pelatihan jurnalistik tingkat lanjut, sosialisasi perlindungan hukum bagi pewarta warga, dan inisiasi media komunitas bagi pewarta warga di wilayah Sulawesi. Acara ini diadakan 3-11 Juni 2015 di Palopo; Luwu Raya; dan Battang Barat. Pelatihan ini diikuti oleh 16 orang yang terdiri dari editor wilayah suarakomunitas.net, pewarta warga, dan komunitas.

Sejak 2008, suarakomunitas.net sebagai ruang bagi pewarta warga telah menjelajah dunia dalam jaringan. Seiring dengan itu, pewarta warga SK yang menjadi penggerak di dalamnya turut berproses. Dari sama sekali tidak bisa menulis, hingga mampu membuat tulisan yang memenuhi kaidah jurnalistik. Begitulah perubahan yang terjadi pada pewarta warga SK. Transformasi tersebut tidak terjadi secara simultan, melainkan evolutif. Para pewarta warga terus mengasah kemampuan jurnalistiknya tiap kali mereka menuliskan tentang apa yang mereka (dan komunitasnya) alami. Kemampuan mereka terasah secara otodidak.

Namun bukan berarti para pewarta warga lebih baik dibiarkan berkembang secara alamiah, otodidak. Bagaimana pun praktik jurnalisme berangkat dari konsepsi yang sudah dikonsensuskan, sehingga kepatuhan atas prinsip-prinsip dasar jurnalisme menjadi sebuah kewajiban yang patut dilakukan oleh para pewarta, termasuk pewarta warga. Tujuannya tidak lain adalah untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan benar-benar akurat dan mengandung nilai-nilai kebenaran.

Sejauh amatan Tim Suara Warga terhadap suarakomunitas.net terhadap artikel yang dibuat oleh para pewarta warga, sebagian besar masih belum sesuai dengan kaidah jurnalistik. Bahkan tak jarang, prinsip-prinsip dasar yang wajib termaktub terabaikan. Di wilayah Sulawesi, meski sebagian besar tulisannya cenderung membaik dari waktu ke waktu, para pewartanya perlu dibekali modal yang lebih banyak, salah satu caranya dengan pelatihan jurnalistik tingkat lanjut.

Sulawesi juga memiliki kekhasan dalam pemberitaannya. Konflik agraria kerap menjadi topik utama dalam pemberitaan pewarta warga SK di Sulawesi, khususnya di wilayah non-kota besar. Sebut saja misalnya wilayah Luwu di Sulawesi Selatan dan Wawonii di Sulawesi Tenggara, di mana konflik agraria begitu tinggi. Pemilihan untuk mengangkat kasus-kasus tersebut bukan karena sensasinya, melainkan karena kebutuhan untuk memberitakan ketidakadilan yang terjadi di daerah yang jauh dari pantauan ‘mata’ nasional maupun internasional. Ditambah lagi banyak dari pewarta warga yang juga aktivis di daerahnya, yang sangat dekat dengan isu-isu tersebut, sehingga pemilihan isu agraria menjadi sejalan dengan perjuangan harian mereka.

Keberanian mengangkat isu sensitif seperti isu agraria juga meningkatkan kerentanan pewarta warga terhadap ancaman hukum, bahkan keselamatan jiwa mereka. Memenuhi kaidah jurnalistik sudah menjadi keharusan, namun untuk isu-isu yang sensitif, pewarta bahkan sudah rentan sejak saat melakukan peliputan. Maka dari itu, selain perlu dibekali dengan kemampuan jurnalistik yang baik, mereka juga perlu memahami prinsip-prinsip investigasi. Pengenalan terhadap jurnalisme investigatif menjadi salah satu caranya.

Akhir tahun 2014, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) membuat terobosan dengan membuat keputusan untuk menerima citizen journalist (pewarta warga) sebagai anggota. Keputusan tersebut memiliki dampak yang signifikan bagi keberadaan pewarta warga di Indonesia. Meski belum diakui sebagai konstituen Dewan Pers, dengan adanya penerimaan oleh AJI, pewarta warga secara otomatis memiliki payung organisasi formal yang bisa membantu advokasi di berbagai aras—idealisme, hukum, dan sebagainya. Maka, sosialisasi tentang adanya penerimaan pewarta warga oleh AJI perlu dilakukan.

Selain pelatihan jurnalistik tingkat lanjut dan sosialisasi perlindungan hukum bagi pewarta warga, inisiasi media komunitas di Battang Barat juga menjadi agenda pada acara ini. Keberadaan media komunitas di Battang Barat menjadi sesuatu yang dianggap penting untuk mendukung perjuangan Komunitas To Jambu, baik sebagai sarana mengampanyekan proses dan kondisi yang terjadi di lapangan, juga sebagai sarana konsolidasi internal sesama komunitas.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, CRI dan Suara Komunitas bekerjasama Perkumpulan Wallacea perlu ada pertemuan dalam bentuk lokakarya untuk mempertajam desain media komunitas di To Jambu yang dapat berfungsi sebagai media kampanye dan konsolidasi di tingkat internal yang akan mendukung perjuangan To Jambu mendapat pengakuan atas wilayah sesuai aturan yang berlaku.

You may also like...