Laporan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2014

Perhelatan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2014 akhirnya terlewati sudah. Selama empat hari pada 23-26 Oktober 2014, beragam aktivitas di Jogja National Museum sebagai lokasi kegiatan nyaris tak pernah ber­henti. Prinsip bertemu, saling berbagi informasi pengetahuan dan ke­mudian berkomitmen melakukan sesuatu bersama-sama menjadi warna di seluruh kegiatan. Di balik kerumitan teknis khas kegiatan berskala besar, inilah roh sesungguhnya dalam setiap JMR.

Bisa dibilang tidak ada yang menyangka JMR akan bisa dilaksana­kan rutin dua tahunan selama tiga kali, dimulai 2010. Tidak sepenuhnya merupakan hal yang disengaja, by design, melainkan lebih merujuk pa­da situasi. Ada kebutuhan para komunitas untuk kembali berkumpul, semacam “melaporkan” apa yang telah mereka lakukan sekaligus me­ngampanyekan isu yang diusung. Mereka juga butuh tahu perkembang­an komunitas atau lembaga lain, siapa tahu ada yang bisa disinergikan atau sekedar dipelajari.

Secara kuantitas, ada 51 diskusi dan workshop, 34 pemutaran dan diskusi film, 6 pertunjukkan seni, 30 stan pameran lembaga dan komunitas, 5 stan pameran seni dan 4 stan kuliner digelar se­lama empat hari. Jumlah pengunjung mencapai lebih dari 2.500 orang. Belum lagi lebih dari 50 relawan yang membantu penuh selama pelak­sanaan acara. Merekalah yang menjadi tulang punggung teknis pelaksanaan acara. Inilah yan membedakan JMR dengan acara besar lain yang cenderung menyerahkan sepenuhnya pada Event Organizer yang meniadakan ruang keterlibatan dan kerja bersama bagi publik.

Tema besar tentang tata kelola informasi un­tuk transparansi (desa) ternyata cukup menarik animo masyarakat. Kerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui kehadiran Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto dan Hu­mas KPK Johan Budi, serta Bus Kampanye Anti­korupsi yang saat itu baru diluncurkan juga men­jadi magnet tersendiri. Meski isu yang diperbincangkan dalam JMR 2014 begitu beragam, mayoritas memiliki benang penjalin yang mirip yaitu pemanfaatan teknologi informasi. Konteks di 2014 terutama pada gerak­an rakyat melawan korupsi.

Bagi gerakan masyarakat sipil, internet (baca:media sosial) mestinya memang dapat menjadi senjata ampuh mengonsolidasikan dukungan dan memperluas kampanye isu. Kemajuan teknologi informasi yang pesat di satu sisi memberi banyak ruang inovasi. Namun pekerjaan rumah menjaga idealisme pengelolaan suara rakyat melalui me­dia tak pernah berakhir. Itulah titik penting setelah hajat JMR usai. Sa­atnya bagi semua pihak yang telah memertemu­kan pengalaman kolektifnya dan meramu bera­gam gagasan untuk kembali menapak “jalan pe­dang” pendampingan dan advokasi yang selama ini ditempuh. Tentu dengan kesegaran dan sema­ngat baru dari “teman perjalanan”.

Keberhasilan JMR 2014 diukur tidak ber­henti pada saat penyelenggaraan, melainkan saat ru­ang kolaborasi antarkomunitas dan pegi­at terja­di saat dan usai perhelatan. Jadi perta­nyaan yang tepat bukan apakah akan ada JMR berikutnya, me­lainkan apakah komu­nitas yang berkepentingan dengan pengelolaan informasi butuh untuk ber­kumpul lagi, bertukar pembelajaran dan meng­gunakannya sebagai “ba­terai” penggerak yang ba­ru. Kalau jawabannya butuh, maka sampai jumpa di Jagongan Media Rakyat berikutnya!

Laporan selengkapnya dapat diunduh di sini.

You may also like...