Mitigasi Erupsi Merapi, Ketoprak Bertemu dengan Jathilan

Mitigasi Erupsi Merapi, Ketoprak Bertemu dengan JathilanKejadian alam memang tak bisa dihindari, namun upaya untuk mengurangi risikonya dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana mutlak dilakukan.

Seni dipercaya memiliki kekuatan untuk mengajak warga supaya lebih siap siaga menghadapi bencana.Maka ide untuk membuat pentas seni pun muncul. Mengambil tema SejarahErengingGunung Merapi, Asesirah Siogo Ing beboyo (Cerita di lereng merapi dengan judul Siaga Menghadapi Bencana), pentas seni tradisional ini diadakan untuk mengajak warga terutama yang tinggal di lereng Gunung Merapi agar terus meningkatkan kesiapsiagaan guna menghadapi bencana.

Pentas yang digelar warga dua desa di kaki Gunung Merapi, yakni Desa Sidorejo dan Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupate Klaten, Jawa Tengah ini akan mengkolaborasikan kethoprak dan jathilan. Dua kesenian tersebut memang telah menjadi budaya yang akrab dengan kehidupan warga di sekitar lereng Gunung Merapi. Dalam pentas ini, tak kurang dari 80 pemain ketoprak dan jathilan akan menampilkan pengetahuan tentang bencana melalui aneka gerak dan ekspresi. Selain sebagai suatu bentuk seni yang menghibur, pentas tersebut juga sarat nilai-nilai moral yang dapat didalami, sekaligus sebagai sarana trauma healing yang dapat lebih memperkuat warga penyintas erupsi di lereng Merapi.

Pentas kolaborasi ketoprak dan jathilan ini akan berlangsung pada Sabtu, 25 April 2015 di Balai Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah pada pukul 19:00 – 02:00 WIB. Pentas yang merupakan kerjasama antara warga Desa Sidorejo, Kabupaten Kemalang Jawa Tengah Melalui Radio Komunitas Lintas Merapi dengan Radio FMYY Jepang dan Combine Resource Institution Yogyakarta ini mengadopasi istilah Jepang BOKOMI (Bosai Fukushi Komyunithi).

BOKOMI adalah komunitas berbasis kemasyarakatan yang dibentuk dengan tujuan meningkatkan kapasitas warga dalam melakukan mitigasi bencana. Komunitas ini mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kesadaran serta kemampuan masyarakat menghadapi ancaman bencana dengan berbasis kearifan lokal setempat.

Kegiatan ini juga merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dan membangkitkan kesenian, yakni ketoprak dan jathilan sebagai wadah sosialisasi kebencanaan melalui kesenian yang dapat menyesuaikan selera masyarakat di lereng Merapi ini,” jelas Sukiman, selaku koordinator panitia Desa Sidorejo.

Ke depan, upaya pengurangan risiko bencana melalui kesenian dapat diteruskan dan diadakan secara berkelanjutan di berbagai desa dengan lebih baik. Tujuannya, agar upaya tersebut bisa menyatu dengan kearifan lokal di masing-masing desa. 

You may also like...