Tajuk Suara Komunitas Bulan Agustus

34727_114215238638097_7857065_n

 Akhir Ramadhan Bukan Akhir Perjuangan*

Ramadhan baru saja usai. Ritual tahunan itu pun diakhiri dengan perayaan kemenangan sebagai simbol berakhirnya perjuangan melawan hawa nafsu yang dilakukan selama bulan tersebut. Namun, Hari Kemenangan atau Idul Fitri tidak menjadi akhir dari segala proses perjuangan harian. Upaya untuk menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, yang dibarengi dengan usaha melawan kebatilan masih berlangsung sepanjang tahun.

Di Indonesia, hampir seluruh umat Islam merayakan Idul Fitri dengan melakukan mudik. Sebuah aktivitas yang secara sederhana bisa diartikan sebagai kunjungan silaturahmi rutin kepada sanak keluarga. Mudik juga bisa berarti ‘kembali ke akar’. Kembali ke tanah di mana si manusia dilahirkan. Mudik menandakan bahwa ada sebuah tanah yang patut diziarahi. Yang patut diingat karena menyimpan banyak memori kehidupan.

Namun, di tengah kemeriahan tersebut, masih ada orang-orang di belahan dunia lain yang bahkan tak mampu menziarahi tanah kelahirannnya. Di Gaza, Palestina, orang-orang tidak bisa menjalani bulan ramadhan dengan hikmat. Bahkan ketika umat Islam di seluruh dunia merayakan kemenangan Idul Fitri, mereka masih harus berjuang untuk menyelamatkan diri dari gempuran tentara Israel. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjadi syuhada karena berusaha mempertahankan tanah kelahirannya. Kampung halamannya. Di penjuru-penjuru kota, deru senjata api lebih nyaring dibanding adzan dan bedug maghrib. Tak terpikir untuk merayakan kemenangan pasca-Ramadhan, karena terlalu cemas akan ancaman serangan militer Israel.

Tak hanya rakyat Gaza yang berada di titik nadir kehidupan. Kaum Nasrani di Mosul, Irak pun mengalami nasib serupa. Sejak Mosul dikuasai oleh milisi ISIS (Islamic State of Iraq and Sham), setiap orang di kota tersebut diwajibkan untuk mengikuti aturan yang dibuat oleh milisi. Kehidupan kaum Nasrani di Mosul kian terdesak setelah ISIS mengeluarkan perintah agar mereka berpindah agama atau dieksekusi mati. Serupa rakyat Gaza, mereka kehilangan kemerdekaan di tanah kelahirannya.

Bagaimana dengan di Indonesia? Tidak jauh berbeda. Petani-petani di Rembang dan Karawang, misalnya, terus sibuk berjuang mempertahankan tanah kelahirannya dari gempuran industrialisasi. Di Rembang, rakyat Desa Tegaldowo dan Timbrangan berlebaran di bawah tenda protes yang mereka namai Tenda Perjuangan untuk Menolak Pabrik Semen. Boro-boro memikirkan baju baru atau hidangan lebaran yang lezat, karena masih harus memastikan bahwa ruang hidup mereka tidak dirampas. Begitupun di Telukjambe, Karawang, mereka sudah hampir putus asa karena tanah lahir dan hidup mereka sudah jatuh ke tangan perusahaan. Hanya tinggal menunggu waktu hingga mereka kelelahan dan menyerah pada kekuasaan yang lalim.

Merayakan kemenangan pasca-ramadhan memang menjadi ‘ritual’ yang perlu dilakukan setelah sebulan penuh berjuang melawan hawa nafsu. Namun, ramadhan bukan akhir dari seluruh perjuangan kehidupan. Karena seiring kehidupan, perjuangan akan selalu menjadi bagian dari prosesnya.

Akhir kata, Redaksi suarakomunitas.net mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Mohon maaf lahir dan batin.

*Tulisan ini diambil dari www.suarakomunitas.net

You may also like...