#Agenda 17/05/2013 Diskusi “Media Komunitas dan Advokasi di Tengah Transisi Demokrasi

Ideologi pembangunan atau yang dikenal dengan paham developmentalisme merupakan landasan bagi Orde Baru selama 32 tahun untuk memainkan perannya sebagai agen kapitalisme. Dalam perkembangannya faham tersebut telah melahirkan sejumlah persoalan di tengah masyarakat secara individual ataupun kelompok (komunitas), diantaranya adalah tercerabutnya identitas budaya dan melemahnya organisasi-organsisasi tradisional yang telah ada. Bahkan secara ekonomi politik juga menghancurkan basis sumber daya komunitas akibat kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan olehnya.

Dalam ranah informasi dan komunikasi, Orde Baru juga menerapkan sistem media massa yang bersifat top-down. Akibatnya, selain menciptakan keterbatasan informasi, sistem ini juga cenderung hanya menjadi alat untuk memproduksi wacana yang manipulatif. Secara ideologis, sistem ini bertujuan untuk meredam kesadaran kritis setiap anggota masyarakat dan mempersempit akses publik terhadap penyelenggaraan pemerintahan.

Situasi dan kondisi yang demikian menjadi berubah seiring tumbangnya rezim otoritarian Orde Baru. Era ini disebut sebagai transisi demokrasi, dimana kebebasan dan keterbukaan menjadi penandanya. Namun ironisnya peluang kebebasan dan keterbukaan itu justru dimanfaatkan oleh korporasi media, dalam artian transisi demokrasi juga telah membawa gelombang hadirnya industri media. Anggapan awal bahwa kebebasan pers dan keterbukaan informasi sebagai indikator “demokrasi” menjadi terbantahkan ketika kita melihat perkembangan tersebut hanyalah bagian dari kepentingan pasar. Pada praktiknya yang terjadi adalah pemindahaan kekuasaan pers-media dari pemerintah kepada korporasi yang didalamnya berorientasi kepentingan profit. Lalu bagaimana mewujudkan media yang bisa mengakomodir kepentingan rakyat ?

Untuk menjawab kegagalan dan kritik terhadap model komunikasi Orde Baru dan liberalisasi media itu, lahirlah sebuah model komunikasi “partisipatif” yang tidak lain adalah media komunitas. Sebuah model yang menekankan partisipasi akar rumput dalam proses komunikasi sehingga dapat membantu pengembangan identitas kultural, sekaligus bertindak sebagai media yang dapat mengartikulasi persoalan-persoalan komunitas. Diantara keragaman bentuk media komunitas, salah satunya adalah radio komunitas. Secara empiris, radio komunitas dapat berperan sebagai alat tafsir masa lalu dan memberi makna di masa depan, penyedia informasi secara berkelanjutan, berpartisipasi dalam proses keputusan politik sekaligus penyuara akar rumput, ruang edukasi alternatif dan berfungsi secara strategis sebagai alat advokasi dalam wilayah-wilayah komunitas hingga berperan sebagai mobilisator suara akar rumput.

Tapi apakah semua radio (media) komunitas dapat menjalankan perannya sebagai ruang advokasi dan edukasi bagi komunitasnya ? Indikator-indikator apa saja yang menjadi alat ukur radio (media) komunitas berfungsi sebagai advokasi ? Lalu dapatkah radio komunitas berperan sebagai mobilisator suara akar rumput ?

Pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan bagian dari suatu kerangka untuk memetakan media komunitas yang subur dan berkembang di pasca otoritarian dalam kontribusinya sebagai pendukung perubahan sosial sekaligus penggalian strategi kedepan dalam memposisikan radio komunitas sebagai media edukasi dan mobilisasi suara akar rumput. Oleh karena itu, Combine Resource Institution sebagai salah satu lembaga yang bergerak dalam pengembangan media komunitas menggagas diskusi ini untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

 

Tujuan :

  1. Mempelajari sejarah perkembangan media-advokasi dalam lintasan jaman.
  2. Menggali konsep advokasi dan media komunitas dalam ranah teoretik dan praktik di era transisi demokrasi.
  3. Refleksi dan memetakan masa depan media komunitas dalam penguatan masyarakat sispil.

 

Narasumber :

1. Yando Zakaria (KARSA)

2. Ranggoaini Jahja (Combine)

 

Waktu :

Jumat, 17 Mei 2013, pukul 13.00 WIB

 

Tempat :

Sanggar Metik,

Combine Resource Intitution

Jalan KH Ali Maksum RT 06, Nomor 183 Pelemsewu, Pangungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

You may also like...

Leave a Reply