Mondoretno Sedang Siapkan “Pondasi” Desanya

Subagiyono (43) Kepala Desa Mondoretno, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengaku tidak punya data kependudukan yang rinci terkait desa yang ia pimpin. Selama ini, jika ada pendataan semua hasilnya menjadi kuasa Badan Pusat Statistik (BPS).

Keadaan itu, kata Subagiyono, cukup merepotkan tata kelola pemerintahan desanya. Apalagi menyangkut hasil pendataan yang berkaitan dengan bantuan dari pemerintah yang bisa memicu konflik horisontal.

“Yang namanya pendataan itu, kan kadang-kadang ada motivasi sendiri. Taruhlah misalnya pendataan yang terkait dengan bantuan. Kadang-kadang terjadi manipulasi,” kata Subagiyono, Kamis, (22/11/2012) di Temanggung.

Subagiyono mencontohkan kasus yang terjadi pada 2009 ketika BPS memutakhirkan data Rumah Tangga Miskin (RTM) di Mondoretnno. Ada perbedaan jumlah yang bahkan pemerintah desa sendiri pun tidak tahu alasannya.

“Tahun 2008 itu ada RTM sejumlah 142. Saat update 2009 yang muncul 109. Ketika saya pengen tahu yang 33 itu kenapa tidak masuk, kelengakapannya seperti apa, jawaban yang saya terima itu sudah diolah di tingkat pusat,” katanya mengingat jawaban dari BPS.

Ketika pada September lalu, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Negeri Semarang (KKN-Unnes) bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Temanggung dan Lumbung Komunitas COMBINE Resource Institution menawarkan program Sistem Informasi Desa (SID), Subagiyono begitu antusias. Dalam jangka satu setengah bulan, Subagiyono mengerahkan perangkat desa untuk mensukseskan program SID.

Masing-masing dari sepuluh perangkat Desa Mondoretno diminta oleh Subagiyono untuk bekerjasama dengan KKN Unnes bertanggungjawab mendata penduduk dan sumber daya desa di 10 RT di Mondoretno. Guna menjamin kedipercayaan data, mereka diminta mendata dari pintu ke pintu.

Selama satu setengah bulan, dari September-Oktober, semua data desa yang mencakup 550 kepala keluarga (kk) itu berhasil mereka kumpulkan. Namun, Subagiyono menyayangkan, waktu kerja KKN yang singkat berdampak pada tidak semua data itu berhasil di-input dalam SID.

“Bukan waktu yang panjang untuk membangun data,” katanya.

Sampai mahasiswa KKN Unnes ditarik dari Mondoretno, baru 152 kk yang telah ter-entry. Dan Subagiyono paham dengan banyaknya data baru dan bervariabel banyak entry data SID desanya membutuhkan waktu.

“Kalau kita ingin target selesai pas masa KKN saya kira tidak sanggup. KKN juga punya program lain. Saya cukup berterimakasih juga ketika pendataannya itu sudah selesai walaupun entry datanya belum 100%,” katanya.

Menindak-lanjuti inisiasi SID di Desa Mondoretno, Kepala Bidang Statistik dan Litbang Bappeda Temanggung Danang Purwanto mengatakan, akan melanjutkan program itu dengan menjadikan Mondertno, dan dua desa lainnya di Temanggung sebagai pilot project. Menurut Danang, tahap ini merupakan persiapan untuk SID yang akan diterapkan di seluruh desa Temanggung.

“Kita targetnya tahun 2013 mendatang SID untuk Desa Mondoretno dan dua desa lainnya sudah terlaksana. Itu bisa menjadi contoh bagi desa lain untuk mendorong mereka menerapkan SID,” kata Danang.

Disinggung soal kesiapan dengan SID pada 2013 mendatang, Kepala Desa Mondoretno Subagiyono yakin bisa menunaikannya. Kebetulan pada tahun ini, kata Subagiyono, ada perekrutan perangkat desa baru yang paham dengan sistem informasi.

“Ya harus di-100%-kan,” tegas Subagiyono.

Ibarat sebuah rumah, kata Subagiyono, data itu pondasinya desa. Laiknya rumah, dia juga harus punya pintu juga jendela. Dia yakin SID kelak bisa menjadi pintu sekaligus jendela Desa Mondoretno untuk bergaul dengan dunia luar.

“Kita bisa berkembang kalau kita bisa berinteraksi,” yakin Subagiyono.

You may also like...

Leave a Reply