Tidak Ada Suara Rakyat di AMCDRR

Para delegasi dari luar negeri sedang mengabadikan suguhan keseninan jathilan dari warga huntap Pagerjurang, Cangkringan, Sleman, ketika menyambut mereka dalam fieldtrip AMCDRR. Praktis delegasi dari 72 negara itu hanya punya waktu 15 menit untuk meninjau bagaimana proses rekonstruksi perumahan korban erupsi Merapi 2010 di huntap Pegerjurang.

Siang itu warga Dusun Pagerjurang tampak sibuk. Mereka seolah tak mau kalah dengan para pekerja yang mengebut pembangunan beberapa rumah yang belum selesai. Tampak tanaman-tanaman hias yang baru diturunkan dari sebuah mobil bak terbuka mulai ditata di beranda depan rumah masing-masing.

“Ini dari toko tanaman hias di Jalan Kaliurang,” kata sopir pengantar tanaman yang tak mau disebut namanya, Rabu (24/10/2012).

Halaman di sekitar blok-blok rumah yang belum semuanya belum dialiri listrik itu juga terus dibasahi. Sebagai tuan rumah yang baik, mereka tak mau nantinya para delegasi dari 72 negara itu terganggu oleh debu.

Setali tiga uang, panitia penyelenggara Asian Ministerial Conference on Disaster Risk Reduction (AMCDRR) ke-5 tidak mau menanggung malu. Hunian tetap (huntap) Dusun Pagerjurang, Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, yang saat itu masih alakadarnya harus terlihat siap dihuni. Jadilah kemudian tanaman hias, listrik dadakan, dan toilet-toilet darurat menjadi pelengkap huntap yang pada hari terakhir AMCDRR ke-5 akan dikunjungi oleh delegasi dari 72 negara.

“Perjalanan lapangan akan diselenggarakan ke daerah yang terkena erupsi Gunung Merapi 2010. Peserta akan memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan anggota masyarakat dan melihat upaya pemulihan pascabencana,” tulis panitia penyelenggara di website resminya.

Seperti dikutip dari Kompas (27/10/2012), para delegasi yang berkunjung ke Pagerjurang mendapat pengawalan khusus. Warga lereng Merapi di sana praktis hanya menjadi “objek” kunjungan, sekaligus studi banding.

Kesan elitis dari kunjungna itu sama sekali tidak beda dengan konferensi AMCDRR yang dilaksanakan sebelumnya selama tiga hari, Senin-Rabu (22-24/10/2012) di Jogja Expo Center.

Menurut Pegiat COMBINE Resource Institution (CRI) Akhmad Nasir, konferensi internasional bertema “Membangun Kapasitas Lokal untuk Pengurangan Risiko Bencana” yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) masih jauh dari semangat saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk penguatan lokal. Menurut Nasir, acaranya terlalu elitis.

“Kalau sekadar dapat dokumennya mungkin bisa unduh dari web. Tapi kalau mau ikut bicara susah,” tulis Nasir lewat akun twitternya.

Nasir mengaku, setiap narasumber hanya diberi waktu masing-masing 15 menit untuk menyampaikan paparannya. Dia yang mempresentasikan tentang “Jaringan Informasi Berbasis Komunitas untuk Pengurangan Risiko Bencana”, itu praktis tidak punya waktu untuk tanya-jawab dengan peserta lainnya.

Lha wong mau masuk ke arena konferensi saja susah banget. Kecuali wartawan dan delegasi yang sudah punya “nama” ndak bisa,” tulis Nasir di akun twitternya.

Tidak kurang dari Ketua Palang Merah Indonesia DIY Herry Zudianto yang hadir dalam pertemuan itu juga gusar akan AMCDRR yang tak memberi ruang untuk rakyat bersuara. Seperti dikutip dari Kompas (27/10/2012), mantan walikota Yogyakarta itu berharap AMCDRR semestinya memberi ruang kepada masyarakat untuk memikirkan apa yang akan dilakukan untuk Pengurangna Risiko Bencana (PRB). Jangan sampai acara itu sekadar sebagai “wisata konferensi” yang tak menyentuh orang bawah.

Sementara itu, Tim Komunikasi dan Informasi untuk Situasi Darurat (Tikus Darat) selain menjadi peserta pameran Kampung PRB yang diselenggarakan di halaman Royal Ambarukmo, Yogyakarta, juga mendukung akses internet di lokasi pameran lewat armada Motor Internet Segala Situasi Vespa V-Sat (MISS VV) untuk kelancaran acara. Armada Tikus Darat juga sedikit mencuri perhatian dari delegasi 72 negara yang berkunjung di Pagerjurang pada hari terakhir pelaksanaan AMCDRR.

AMCDRR sendiri yang total dihadiri oleh 2.600 orang dari 72 negara itu melahirkan “Deklarasi Yogyakarta untuk Pengurangan Risiko Bencana di Asia dan Pasifik pada 2012″. Beberapa butir deklarasi tersebut di antaranya memperkuat hukum dan peraturan, pengaturan kelembagaan dan tata kelola risiko untuk PRB dan perubahan iklim; mendukung masyarakat lokal untuk memiliki pendanaan yang memadai guna meningkatkan kapasitas; meningkatan partisipasi, transparansi, efektivitas dan efisiensi, serta akuntabilitas untuk membangun ketahanan masyarakat; dan mempromosikan replikasi berbasis masyarakat yang berhasil dalam PRB dan perubahan iklim di tingkat nasional dan lokal.

Thailand akan menjadi tuan rumah AMCDRR ke-6 ayang rencananya akan diselenggarakan pada 2014.

Khairul Anam. Staff Kominfo COMBINE Resource Institution

You may also like...

Leave a Reply