JRKI Selenggarakan Sekolah Radio Komunitas

Perwakilan JRK Wilayah sedang mengikuti dialog nasional. Selama 4 hari berturut-turut mereka akan mengikuti ToT “Sekolah Radio Komunitas” yang akan menjadi bekal mereka menggelorakan radio komunitas jurnalisme ke masyarakat di komunitasnya dengan lebih baik.

Seteleh 10 tahun Undang-Undang Penyiaran bejalan, dinamika radio komunitas dalam dunia penyiaran di Indonesia kian memberi warna tersendiri. Upaya-upaya pengelola radio komunitas untuk memanfaatkan sebesar-besarnya jatah frekuensi merupakan bagian dari membangun sistem penyiaran Indonesia yang lebih adil dan terbuka.

Sebagian peran radio komunitas yang banyak diketahui publik itu seperti upaya penanggulangan bencana, kampanye pencegahan penularan HIV dan AIDS, pengarusutamaan jender, penguatan kaum perempuan, kampanye isu lingkungan serta pembangunan desa. Kendati belum signifikan, kiprahnya sedikit banyak telah memberi kontribusi berarti di tingkat komunitas.

Kenyataan itu mengemuka dalam dialog nasional “Radio Komunitas sebagai Media Perubahan Sosial dan Masa Depan Sistem Penyiaran Indonesia” yang digelar Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) di Solo, Jumat (19/10/2012). Hadir sebagai narasumber Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Mochamad Riyanto, Ketua Pansus RUU Desa Budiman Sudjatmiko, Perwakilan Kemenkominfo, Wakil Presiden untuk Asia Tenggara di Dewan Asia Pasifik Asosiasi Radio Komunitas Dunia (AMARC) Imam Prakoso, dan Ketua JRKI Sinam M. Sutarno. Dialog nasional tersebut kemudian disusul dengan Training of Trainers (ToT) “Sekolah Radio Komunitas”, Sabtu-Selasa, (20-23/10/2012) .

Ketua JRKI Sinam M. Sutarno mengungkapkan, himpunan pengalaman praktis dan cerita-cerita suskes radio komunitas dari seluruh Indonesia sangat sayang bila cuma diabaikan. Radio komunitas harus menanggapinya dengan membagikan pengalaman itu ke banyak tempat dan orang. Bagaimana misalnya sebuah radio usang dapat mendorong perubahan sosial yang kecil di tingkat komunitas dengan program-program on air maupun off air.

“Selama 4 hari ke depan, perwakilan Jaringan Radio Komunitas (JRK) Wilayah akan saling berbagi dengan fasilitator tentang bagaimana cara mengelola radio komunitas yang baik dan benar,” kata Sinam.

Sinam menilai, pengalaman dan keterampilan teman-teman pegiat radio komunitas sayang bila tidak disebarluaskan. Para fasilitator juga berasal dari pegiat-pegiat radio komunitas di tingkat wilayah yang telah berkecimpung di dunia radio komunitas sejak lama.

“Sebenarnya kurang tepat juga kalau dibilang ini ToT. Lebih tepatnya saling bertukar pengalaman, tetapi disertai dengan kurikulum yang baku sehingga mudah dipelajari dan dimengerti,” lanjut Sinam.

ToT ini juga membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Dengan begitu, pengalaman mengelola radio komunitas bisa lebih tajam dengan menambah materi-materi tentang jurnalistik.

Setelah tiga hari mengikuti ToT, para perwakilan JRK Wilayah akan diajak untuk mengadakan kunjungan lapangan ke Sragen meninjau radioland Pasar Bunder, Selasa (23/10/2012). Di sana mereka akan belajar bersama dengan pegiat radioland yang kerap menjadi corong sumber informasi bagi warga Pasar Bunder, baik pedagang, pembeli, sampai pengelola pasar.

JRKI mengharapkan sepulangnya dari ToT, perwakilan JRK Wilayah bisa segera mereplikasikan bagaimana cara kerja radio komunitas yang baik di tingkat komunitas. Selain itu, mereka diharap bisa menularkan pengetahuan dan pengalaman terkait junalisme dasar ke masyarakat yang lebih luas.

You may also like...

Leave a Reply