Sistem Informasi Desa Generasi II Siap Luncur

Sudah setahun lebih Terong punya sistem informasi desa (SID). Dan selama itu pula Sudirman Alfian menahan gerah. Makin hari, ia tidak betah menunggu bantuan dana dari kabupaten. Betapapun SID Desa Terong tanpa sokongan Kabupaten Bantul, informasi desa untuk warganya terus mengalir.

“SID menjadi isu yang tidak seksi bagi kabupaten, sehingga tidak ada anggaran khususnya,” tukas Kepala Desa Terong itu. Rasa kesalnya ia sampaikan saat “Evaluasi Penerapan Sistem Informasi Desa (SID) Versi 1.0 dan Sosialisasi SID Versi 2.0 untuk Pemerintah dan Masyarakat Desa” di University Center (UC), Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, akhir bulan lalu.

Wahyu Raharjo, yang saat acara tersebut mewakili jajaran Kabupaten Bantul, pilih bungkam mendengar curahan hati Sudirman. Ia cuma bilang kalau, “Itu (SID), kan mau dijadikan alat keterbukaan informasi atau proses penyelenggaraan tata kelola pemerintah desa. Sepanjang SID ini memenuhi kriteria yang masuk dalam aturan resmi negara,” katanya.

Tapi, Kepala Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Bantul itu tidak mengelak akan kebermanfaatan SID. “Sangat-sangat bagus untuk mejawab persoalan-persoalan yang harus ditampung desa terutama kebijakan dari pusat.” Dan ia, bersama pejabat kabupaten yang ada di seluruh Provinsi DI Yogyakarta, lewat Forum Profil Desa, sedang berupaya agar SID dapat diterapkan di seluruh desa, paling tidak di Yogyakarta. “Jangan seperti sekarang yang baru 1-2 desa,” katanya lagi.

Saat ini, Combine Resource Institution (CRI), lembaga pengembang SID, sedang melakukan negosiasi agar antara profil desa dengan SID itu nanti bisa nyambung. “Sementara SID di setiap desa itu bisa jadi berbeda. Karena memang berangkatnya sesuai kebutuhan,” kata Budhi Hermanto, fasilitator acara dari CRI.  Selepas evaluasi SID generasi pertama, acara lantas berlanjut ke sosialisasi SID generasi baru. Tidak ada perubahan dari yang sebelumnya. Cuma beberapa penambahan fitur yang dianggap perlu. Seperti, “Data informasi dasar, misalnya agama, bisa ditambahkan di sini,” jelas Novi Erisa, pengembang program SID.

Evaluasi SID generasi satu dan sosialisasi SID generasi baru tersebut menghadirkan perangkat dari sembilan desa di DIY dan Jawa Tengah, baik yang telah menerapkan SID generasi satu maupun yang masih dalam proses penerapan. Mereka adalah: Desa Terong, Dlingo, Bantul; Desa Gilangharjo, Pandak, Bantul; Desa Nglegi, Patuk, Gunungkidul; Desa Girikarto, Panggang, Gunungkidul; Desa Balerante, Kemalang, Klaten; Desa Talun, Kemalang, Klaten; Desa Tejosari, Ngablak, Magelang; Desa Pagergunung, Ngablak Magelang; dan Desa Kandangan, Kandangan, Temanggung.
Sebagian peserta tampak sedikit bingung dengan SID generasi baru. Arifin, Kepala Desa Nglegi, Patuk, Gunungkidul, misalnya, khawatir kalau mereka harus mengulang lagi masukan data ke SID generasi baru dari awal. Padahal saat memasukkan data ke SID generasi pertama lalu, ia dan timnya sedikit mengalami kepayahan. “Bisa tidak data di versi 1.0 langsung di copy ke versi 2.0?” tanya Arifin pada Novi. “Otomatis ter-update,” jawab Novi.

Beberapa peserta lokakarya tersebut, salah satunya juga memberi usul kalau dalam SID generasi baru kelak, bisa mencantumkan data kemiskinan. Tapi perkara ini cukup sulit. Karena masing-masing desa mempunyai indikator kemiskinan sendiri. “Sementara sistem ini (SID) digunakan secara universal, sehingga agak ribet jika harus disesuaikan dengan keadaan lokal masing-masing,” kata Mart Widarto, co-fasilitator acara.

Novi berjanji, paling lambat akhir Juli ini SID generasi baru siap luncur. Selagi persiapan tersebut, Combine Resource Institution, selaku pengembang SID terus menampung masukan-masukan yang dapat jadi panutan buat SID generasi baru. Agar saat peluncurannya kelak, merupakan hasil pengembangan dari aspirasi warga sendiri. Karena program SID ini bukan berangkat dari atas ke bawah, tapi sesuai kebutuhan warga.  (Khairul Anam)

You may also like...

Leave a Reply